Selasa, 23 November 2010

Asal Usul Suku Jawa

Indonesia terdiri dari banyak sekali suku bangsa, salah satunya adalah suku Jawa. Suku Jawa adalah salah satu yang dominan karena jumlahnya cukup banyak dibanding suku-suku lainnya. Mereka berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menguak asal-usul suku Jawamenjadi menarik karena terbukti banyak tokoh-tokoh Indonesia yang berasal dari suku ini. Sebut saja, Susilo Bambang Yodoyono (SBY), Soeharto, Soekarno, Gusdur, Megawati, dan masih banyak yang lainnya. Mereka semua pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia. Bahkan, SBY masih menjadi presiden republik Indonesia.
Kisah suku Jawa berawal dari datangnya seorang satria pinandita, yaitu Aji Saka. Ia menulis sebuah sajak yang kini diakui sebagai huruf Jawa. Asal mula ini pun akhirnya digunakan untuk awal mula penanggalan kalender saka.
Definisi
Suku Jawa adalah mereka yang merupakan penduduk asli di pulau Jawa bagian tengah dan timur. Mereka yang berkomunikasi dengan ibu bapaknya menggunakan bahasa Jawa. Setidaknya, itulah yang didefinisikan oleh Magnis-Suseno.
Bahasa
Bahasa yang digunakan ada 2 jenis bahasa Jawa, yaitu sebagai berikut.
  1. Bahasa Jawa Ngoko. Digunakan kepada orang yang sudah akrab, orang yang lebih muda usianya atau lebih rendah status sosialnya.
  2. Bahasa Jawa Kromo. Digunakan kepada orang yang belum akrab, tetapi sebaya atau memiliki status sosial yang sama, serta kepada orang yang usianya lebih tua atau yang lebih tinggi status sosialnya.
Penggolongan Sosial
Berdasarkan penggolongan sosial, pada 1960-an, seorang antropologidari Amerika, Clifford Geertz, membaginya ke dalam tiga golongan.
  1. Kaum Santri, yaitu mereka yang menganut agama islam.
  2. Kaum Abangan, yaitu mereka yang hidupnya masih berpegang pada adat istiadat Jawa, biasanya disebut juga kejawen. Para kaum priyayi kuno biasanya masuk ke dalam golongan ini juga. Walaupun ada di antara mereka beragama Islam, kewajiban-kewajibannya yang terdapat dalam rukun Islam tidak dijalankan secara utuh.
  3. Kaum Priyayi, yaitu para pegawai atau para cendikiawan.
Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan mereka adalah bilateral, yaitu dari keluarga ayah dan keluarga ibu. Tidak hanya dari satu garis saja, seperti pada suku Batak.
Pandangan Hidup
Mereka meyakini bahwa apapun yang ada di dunia ini adalah kesatuan hidup. Manusia yang ada di dunia ini bersatu dengan semesta alam. Hal itu menyebabkan mereka yakin kehidupan manusia adalah pengembaraan yang penuh dengan pengalaman religius.
Hal ini membuat mereka menggolongkan kehidupan terdiri dari dua alam.
  1. Makrokosmic, yakni alam yang misterius, yang penuh dengan hal-hal yang bersifat supranatural.
  2. Mikrokosmic, yaitu alam nyata.
Kedua alam ini memberikan mereka tujuan hidup mencapai keseimbangan kehidupan makrokosmic dan mikrokosmic. Mereka pun percaya agar mereka memiliki kehidupan yang baik di dunia batin danjiwa mereka juga haruslah baik.
Kepercayaan
Suku Jawa masih banyak yang menganut kepercayaan kejawen. Kejawen adalah kepercayaan warisan nenek moyang yang masih memiliki banyak unsur agama Hindu. Penganut kejawen ini, terutama, yang hidup di kalangan kraton dan merekalah yang mempertahankan tradisi-tradisi leluhur suku Jawa.
Watak
Suku Jawa terkenal sebagai suku bangsa yang penuh dengan tata karma, berbudi halus. Mereka adalah orang-orang yang ulet dalam mengerjakan sesuatu. Cenderung tertutup dan tidak suka berterus terang. Hal tersebut konon karena sifat mereka yang ingin memelihara keharmonisan.
Mereka tidak menyukai pertikaian. Buruknya, karena sifat ini, mereka seringkali menyimpan dendam. Selain itu, suku jawa termasuk ke dalam suku yang cenderung membeda-bedakan tingkatan atau kasta. Ini adalah salah satu warisan kebudayaan Jawa kuno dan Hindu yang sudah mengakar pada pribadi mereka.

Sumber www.anneahira.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar